Ternyata Utang Negara Rp1.768 Triliun gan…!!!

Utang Negara Indonesia makin bejibun. Sejak era Presiden Soekarno hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), rakyat Indonesia selalu dibebani utang. Sedangkan kemakmuran yang dijanjikan pemerintah belum terwujud.

Ironisnya, utang Indonesia yang menggunung itu terjadi di tengah kepemimpinan Presiden SBY untuk periode kedua. Bahkan hingga bulan ini beban utang RI naik Rp13,3 triliun menjadi Rp1.768 triliun. Ada yang menyebut tumpukan utang itu karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) digerogoti aparatnya sendiri alias dikorupsi.

Dugaan ini makin menguat dengan pernyataan Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) tentang adanya sejumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang memiliki rekening tak wajar. Diduga mereka adalah bagian dari tikus yang menggerogoti APBN

Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Drajat Wibowo menyebutkan, bisa jadi rekening gendut itu hasil korupsi. BIsa juga rekening penampungan sementara, seperti setoran royalty non migas, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). “BIsa juga penampungan dana transfer dari pusat,” katanya. “Tapi apapun itu cermin tata kelola yang buruk dan rawan korupsi.”

Karena itu, perlu diinvestigasi satu persatu PNS yang punya rekening gendut. “Kalau hasil korupsi, sita saja. Kalau rekening penampungan, segera setorkan ke kas negara. Praktik ini harus diakhiri.”

UTANG MENGGUNUNG

Aktivis Koalisi Anti-Utang, Dani Setiawan menambahkan, utang negara di era Presiden SBY terus meninggi. Tetapi manfaatnya tidak terukur dan terdeteksi. Padahal sepuluh tahun lalu masih Rp1.273 triliun. Kini Rp1.768 triliun atau naik rata-rata Rp50 triliun per tahun.

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan menunjukkan, pada 2010 jumlah utang Rp1.676 triliun. Artinya, dalam setahun terakhir utang bertambah Rp91,19 triliun. Bila beban utang dibagi rata kepada 237 juta penduduk Indonesia, termasuk bayi sudah harus memikul utang Rp7,4 juta. Lebih berat lagi, utang itu 45 persen berbentuk mata uang dolar AS.

Anggota Komisi XI DPR-RI, Arif Budimanta mengungkapkan, pemerintah harus berhati-hati. “Dari sisi likuiditas kemampuan membayar utang pada tahap mengkhawatirkan dan berbahaya,” ungkap Arif.

Pengamat ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM), Revrison Baswir mengungkapkan sejak awal masalah utang sudah didisain menjadi ajang ‘permainan’. “Mereka sengaja mendesain agar negara lain mau menerimanya,” katanya.

Sedangkan mantan anggota Komisi XI DPR Dradjat Wibowo menambahkan, kendati Presiden SBY terus mengingatkan para menterinya untuk tegas mengurangi utang luar negeri, kenaikan utang ternyata tetap meruncing. SBY meminta persentase utang pemerintah terhadap PDB di 2014 harus ditekan menjadi paling besar 22 persen.

SBY juga meminta dengan tegas agar tiap tahun jumlah utang yang dibayar harus lebih besar dari jumlah utang yang ditarik pemerintah. Tapi berbarengan dengan itu, jumlah utang terus menggunung, seakan SBY mengajak rakyat ‘naik-naik ke puncak gunung utang’, yang bisa membuat ekonomi kian pincang karena utang makin banyak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: